kudus, kabupaten kudus, kota kudus
KUDUS – Pascabanjir pekan lalu di Kecamatan Kaliwungu, Kudus, tepatnya di Desa Setrokalangan, menyebabkan para petani menelan pil pahit.
Pasalnya, banjir yang terjadi dalam dua tahapan pada akhir Januari dan akhir Februari lalu menyebabkan ratusan hektare padi yang mulai disemai justru membusuk.
Ketua Kelompok Tani Sidomakmur Desa Setrokalangan Ahmad Sudarji, kemarin, mengungkapkan, genangan air berkepanjangan dan ditambah dengan sirkulasi air pada areal persawahan yang tidak berfungsi merupakan penyebabnya.
”Cuaca yang sudah mulai normal ini justru bukan pertanda baik bagi petani di Desa Setrokalangan. Sebab, ratusan hektare tanaman padi mereka membusuk akibat terendam air cukup lama,” paparnya.
162 Hektare
Total areal tanaman padi yang membusuk 162 hektare. Sebenarnya sebelum banjir tahap kedua datang pada awal Februari, petani sudah menyiapkan tanah garapan dengan menyemai bibit.
Namun nahas, baru berumur 15 hari banjir sudah datang lagi. Harapan petani menikmati hasil panen musim tanam (MT) I pun pupus.
”Padahal, dijadwalkan padi sudah bisa dipanen sekitar awal Februarai. Karena saat sebelum banjir, waktu tanam sudah memasuki usia 35-40 hari,” ujarnya.
Dia juga menekankan, sudah saatnya Pemkab mulai memberian bantuan bibit dan pupuk. Sebab, selama ini petani sudah kehabisan modal. Pada MT I saja tidak sedikit dari mereka yang berutang.
”Kami berharap kepada Pemkab untuk meringankan beban penderitaan petani dengan segera memberi bantuan bibit dan pupuk guna memulai tanam kembali pada MT II yang akan berlangsung bulan depan,” tandasnya.
sumber: suaramerdeka.com
Sorry, comments are closed.