<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>muria.web.id &#187; wisata</title>
	<atom:link href="http://muria.web.id/blog/category/lingkungan-sosial/wisata/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muria.web.id/blog</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 04 May 2010 01:30:14 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Menjual Kekhasan Bali di Kudus</title>
		<link>http://muria.web.id/blog/menjual-kekhasan-bali-di-kudus.aspx</link>
		<comments>http://muria.web.id/blog/menjual-kekhasan-bali-di-kudus.aspx#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Feb 2009 15:45:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kakday</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Kudus]]></category>
		<category><![CDATA[wisata]]></category>
		<category><![CDATA[kabupaten kudus]]></category>
		<category><![CDATA[kudus]]></category>
		<category><![CDATA[kudus online]]></category>
		<category><![CDATA[muria online]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muria.web.id/blog/?p=210</guid>
		<description><![CDATA[* Oleh Sony Wibisono
BAGI masyrakat Kudus jarak daerahnya dengan Bali memang sangat jauh. Terlebih jika niat kepergian ke Bali hanya ingin mendapatkan suvenir atau kerajinan khas Pulau Dewata tersebut.
Karena itu, kesempatan untuk menjual kekhasan Bali merupakan peluang usaha yang masih terbuka di Kudus. Begitulah, landasan usaha Wayan Ari (38) yang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>* Oleh Sony Wibisono</p>
<p>BAGI masyrakat <a href="http://kuduskab.go.id/" target="_blank">Kudus</a> jarak daerahnya dengan Bali memang sangat jauh. Terlebih jika niat kepergian ke Bali hanya ingin mendapatkan suvenir atau kerajinan khas Pulau Dewata tersebut.</p>
<p>Karena itu, kesempatan untuk menjual kekhasan Bali merupakan peluang usaha yang masih terbuka di Kudus. Begitulah, landasan usaha Wayan Ari (38) yang saat ini membuka usaha pembuatan layang-layang dan lukisan khas Bali. Seperti lukisan Bali pada umumnya, Wayan menampilkan lukisan nuansa alam dan eksotisme pulau surga itu.</p>
<p>Gaya lukisan pun cenderung dekoratif dan menonjolkan gradasi. Tak Kalah menarik, layang-layang berbentuk lebah atau burung pun dibuatnya. Dengan bentuk unik dan pewarnaan apik, kerajinan itu pun memang sangat memancing minat konsumen.<br />
Sita Perhatian<br />
Meski terhitung singkat umur usaha itu, corak kesenian Bali di Kudus itu sudah menyita perhatian terutama agen-agen barang kerajinan yang membaca peluang dagang.</p>
<p>Apalagi, kerajinan yang dibuat Wayan ini harganya terjangkau. Seperti lukisan, untuk ukuran 120 cm x 90 cm dijual Rp 100.000. Sementara itu, ukuran 120 cm x 90 cm dihargai Rp 250.000.</p>
<p>”Biasanya itu masih ditawar. Misalnya beli dua buah lukisan, terus ditawar Rp 150.000 ya sudah saya berikan,” ucap dia saat ditemui di rumah sekaligus tempat usahanya di jalur Kudus-Pati, Desa Tenggeles, Kecamatan Mejobo, Rabu (18/2).</p>
<p>Memang jika dibandingkan dengan lukisan asli Bali, karya Wayan yang menggunakan cat akrilik dan air brush, masih kalah dalam kematangan warna. Namun, untuk sekadar menyakinkan eksotisme Bali cukuplah.</p>
<p>Menurut Wayan, saat ini pesanan yang paling ramai adalah layang-layang. Selain melayani pembeli eceran, setidaknya bapak satu anak ini digenjot permintaan dari tiga agen di Kudus. ”Pokoknya berapa pun saya disuruh langsung setor, belum ada sebulan saja saya sudah setor 200-an pada agen,” papar dia.</p>
<p>Menurut Wayang, tingginya permintaan layang-layang yang dijual Rp 20.000 &#8211; Rp 25.000 itu bukan hanya karena orang ingin menerbangkan saja. ”Banyak perempuan yang hanya menjadikan pajangan karena bentuk dan warnanya menarik,” ucap dia.</p>
<p>sumber: suaramerdeka.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muria.web.id/blog/menjual-kekhasan-bali-di-kudus.aspx/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penanda Islamisasi di Kudus Utara</title>
		<link>http://muria.web.id/blog/penanda-islamisasi-di-kudus-utara.aspx</link>
		<comments>http://muria.web.id/blog/penanda-islamisasi-di-kudus-utara.aspx#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Feb 2009 22:40:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kakday</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Kudus]]></category>
		<category><![CDATA[wisata]]></category>
		<category><![CDATA[kabupaten kudus]]></category>
		<category><![CDATA[kudus]]></category>
		<category><![CDATA[kudus online]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muria.web.id/blog/?p=207</guid>
		<description><![CDATA[* Oleh : Sony Wibisono
MASJID As Syarif 1 di Desa Padurenan, Kecamatan Gebog memang menjadi salah satu penanda penting proses Islamisasi di Kudus Utara. Selain bentuk bangunan yang unik dan mempunyai nilai sejarah tinggi, masjid peninggalan tokoh penyebar Islam Raden Muhammad Syarif itu dipercaya selalu menghadirkan petunjuk tertentu bagi masyarakat ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>* Oleh : Sony Wibisono<em></em></p>
<p>MASJID As Syarif 1 di Desa Padurenan, Kecamatan <a href="http://muria.web.id/blog/diusulkan-program-bedah-rumah.aspx" class="broken_link" >Gebog</a> memang menjadi salah satu penanda penting proses Islamisasi di <a href="http://kuduskab.go.id/" target="_blank">Kudus</a> Utara. Selain bentuk bangunan yang unik dan mempunyai nilai sejarah tinggi, masjid peninggalan tokoh penyebar Islam Raden Muhammad Syarif itu dipercaya selalu menghadirkan petunjuk tertentu bagi masyarakat sampai sekarang.<br />
<em></em><br />
Bagian yang dipercaya memberi petunjuk tersebut adalah mustaka masjid yang sejak masa pendiriannya belum pernah diganti. Biasanya mustaka itu menunjukkan tanda-tanda miring jika terjadi musibah yang pengaruhnya meluas secara nasional.</p>
<p>Misalnya saja ketika peristiwa penculikan dan pembunuhan para jenderal tahun 1965. Kemudian perisitiwa reformasi yang menjatuhkan kekuasaan Soeharto pada tahun 1998.</p>
<p>“Jika ada perisitiwa besar, hampir selalu mustaka masjid selalu miring. Namun, ketika peristiwa sudah terjadi dan akan diperbaiki ternyata bisa lurus kembali. Entah percaya atau tidak, tapi ini kenyataan dan disaksikan banyak orang,” kata tokoh masyarakat setempat, Aminudin, Selasa (17/2).</p>
<p>Yang lebih aneh lagi, menurut Aminudin, miringnya mustaka yang terbuat dari tanah liat itu bukan disebabkan bergesernya landasan. Namun mustaka tersebut seolah-olah menjadi lentur.</p>
<p>“Landasan mustaka itu tetap, tapi bagian pucuknya ndoyong. Kalau landasannya bergeser, itu bisa jadi karena diterpa angin,” jelas putra ulama besar, KH Mawardi itu.</p>
<p><strong>Tidak Lazim</strong></p>
<p>Selain keanehan mustakanya, Masjid As Syarif 1 itu sebenarnya mempunyai pola arsitektur yang tidak lazim. Masjid tersebut semula berbentuk seperti payung, karena hanya ada satu tiang penyangga tunggal. Sayangnya, karena dimakan usia, saka pun diganti dengan empat pilar seperti kebanyakan bangunan Jawa lainnya.</p>
<p>Menurut Aminudin, tidak ada catatan sejarah tentang pendirian masjid tersebut. Namun diperkirakan sudah berdiri sejak zaman Walisongo. Hanya satu petunjuk, yakni catatan pemugaran di bawah mustaka masjid yang ditulis dengan huruf Arab.</p>
<p>Tulisan sederhana itu hanya berupa huruf goin, ra, dan tha, yang berbunyi gharatha. Jika diartikan berdasarkan penghitungan abjad jumal, maka akan menunjukkan angka 1.209 (hijriyah). Jika saat ini pada kalender Islam masuk 1.430 Hijriyah, maka berarti sejak pemugaran pertama saja masjid itu sudah berumur 221 tahun.</p>
<p>sumber: suaramerdeka.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muria.web.id/blog/penanda-islamisasi-di-kudus-utara.aspx/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Batik Kudus Langka karena Mahal</title>
		<link>http://muria.web.id/blog/batik-kudus-langka-karena-mahal.aspx</link>
		<comments>http://muria.web.id/blog/batik-kudus-langka-karena-mahal.aspx#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Feb 2009 23:32:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Kudus]]></category>
		<category><![CDATA[wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Batik]]></category>
		<category><![CDATA[batik kudus]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[kebudayaan]]></category>
		<category><![CDATA[kudus]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muria.web.id/blog/?p=129</guid>
		<description><![CDATA[KUDUS- Salah satu penyebab hilangnya batik asli Kudus di pasaran yakni karena harganya. Harga batik Kudus dianggap terlalu mahal dibandingkan batik-batik lain seperti Lasem, Pekalongan, dan juga Solo atau Yogyakarta. Kepala Seksi Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Achmad menjelaskan, harga batik Kudus bisa mencapai dua kali lipat ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KUDUS-</strong> Salah satu penyebab hilangnya batik asli Kudus di pasaran yakni karena harganya. Harga batik Kudus dianggap terlalu mahal dibandingkan batik-batik lain seperti Lasem, Pekalongan, dan juga Solo atau Yogyakarta. Kepala Seksi Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Achmad menjelaskan, harga batik Kudus bisa mencapai dua kali lipat batik yang lain.</p>
<div class="smIsi">
<p>&#8220;Pernah pada suatu pameran harga batik dari daerah lain hanya berkisar Rp 200 ribu. Namun yang dari Kudus bisa mencapai Rp 600 ribu,&#8221; jelasnya.</p>
<p>Mahalnya batik Kudus disebabkan pengerjaannya yang murni berasal dari keterampilan tangan. Sementara batik-batik lain ada yang dikombinasikan dengan cetak. Ditemui di ruang kerjanya Kamis (26/7), Achmad menjelaskan, alasan lainnya karena faktor pengerjaan batik Kudus yang lebih kompleks. Tak heran jika dengan harganya yang dinilai terlalu tinggi itu, membuat konsumen akhirnya berpindah ke produk lain.<br />
<span id="more-129"></span><br />
&#8220;Jika dilihat dari coraknya, batik Kudus memiliki tingkat kerumitan yang lebih tinggi dibanding yang lain,&#8221; jelas Achmad.</p>
<p>Dia sendiri mengaku sampai saat ini masih berusaha mencari informasi tentang corak batik khas Kudus. Dari beberapa ahli yang dihubunginya, diketahui ada beberapa corak yang menjadi ciri khas Kudus, antara lain perahu kandas, pacetan, kawung, serta tribusono.</p>
<p>Sebetulnya batik Kudus hampir mirip dengan Pekalongan atau Lasem. Persamaan motif tersebut wajar mengingat para pekerja batik di Kudus seringkali mempekerjakan orang-orang yang berasal dari dua daerah penghasil batik itu. Hanya saja, warna pada batik Kudus lebih tua atau lebih matang.</p>
<p>Achmad juga menjelaskan, pertengahan Agustus nanti pihaknya akan mengadakan gelar batik dan kerajinan di Semarang. &#8220;Acara tersebut kami adakan untuk promosi batik Kudus,&#8221; jelasnya.</p>
<p>Selain itu, untuk melestarikan batik ini dinasnya juga mengirim beberapa orang untuk magang di pusat industri batik yang ada di Pekalongan serta Lasem. &#8220;Merekalah nantinya yang akan meneruskan tradisi budaya batik Kudus,&#8221; jelasnya. (H35-36)</p>
<p>sumber : www.suaramerdeka.com</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muria.web.id/blog/batik-kudus-langka-karena-mahal.aspx/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yuli Astuti, Demi Selembar Kapal Kandas</title>
		<link>http://muria.web.id/blog/yuli-astuti-demi-selembar-kapal-kandas.aspx</link>
		<comments>http://muria.web.id/blog/yuli-astuti-demi-selembar-kapal-kandas.aspx#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Feb 2009 23:27:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Kudus]]></category>
		<category><![CDATA[wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Batik]]></category>
		<category><![CDATA[batik kudus]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[enterpreneurs]]></category>
		<category><![CDATA[kandas]]></category>
		<category><![CDATA[kapal]]></category>
		<category><![CDATA[kapal kandas]]></category>
		<category><![CDATA[kompas]]></category>
		<category><![CDATA[kudus]]></category>
		<category><![CDATA[pengembang]]></category>
		<category><![CDATA[profile]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muria.web.id/blog/?p=127</guid>
		<description><![CDATA[


KOMPAS/NELI TRIANA
Yuli Astuti


/


Laporan Wartawan Kompas, Neli Triana
”Sudah biasa, saya pakai sepeda motor ke mana-mana. Saya harus sering pergi untuk sekadar belanja pewarna atau memenuhi jadwal belajar teknik membatik. Untuk itu saya bisa ke Solo, Yogyakarta, atau Semarang. Kadang kecapekan, tetapi setelah melihat hasil batik yang saya buat, semua rasa lelah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="width: 300px; float: left; margin-right: 10px;">
<div style="padding: 0px 0px 5px; width: 298px;">
<div id="loadarea" style="margin-bottom: 5px; width: 298px;"><img src="http://kompas.co.id/data/photo/2008/08/21/060916p.jpg" border="0" alt="" width="298" /></div>
<div id="boxpoto" style="margin-bottom: 0px; text-align: right; font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 9px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: #666666;"><a style="font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 9px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: #666666; text-decoration: none;" href="http://kompas.co.id/read/xml/2008/08/21/06081926/yuli.astuti.demi.selembar.kapal.kandas#">KOMPAS/NELI TRIANA</a></div>
<div id="boxtitle" style="margin-bottom: 0px; font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 11px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: #333333;">Yuli Astuti</div>
</div>
<p><!--- video --></p>
<div id="boxpoto" style="margin-bottom: 0px; text-align: right; font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 9px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: #666666;"><a style="font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 9px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: #666666; text-decoration: none;" href="http://kompas.co.id/read/xml/2008/08/21/06081926/yuli.astuti.demi.selembar.kapal.kandas" target="_blank">/</a></div>
<div style="padding: 0pt;"></div>
</div>
<p><strong>Laporan Wartawan Kompas, Neli Triana</strong></p>
<p>”Sudah biasa, saya pakai sepeda motor ke mana-mana. Saya harus sering pergi untuk sekadar belanja pewarna atau memenuhi jadwal belajar teknik membatik. Untuk itu saya bisa ke Solo, Yogyakarta, atau Semarang. Kadang kecapekan, tetapi setelah melihat hasil batik yang saya buat, semua rasa lelah hilang,” kata Yuli Astuti.</p>
<p>Perempuan berusia 28 tahun ini ditemui di rumahnya, di tengah sawah di Desa Karang Malang RT 04 RW 02 Nomor 11, Gebog, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, awal Agustus lalu. Saat itu Yuli baru kembali dari Yogyakarta yang berjarak sekitar 150 kilometer dari Kudus. Dia mengikuti pameran batik di Yogyakarta. Tidak tampak kelelahan di wajahnya, dia justru begitu bersemangat setelah mengeruk pengalaman dari kegiatan yang diikutinya.<br />
<span id="more-127"></span><br />
Perempuan berkulit putih ini adalah salah seorang dari segelintir warga asli Kudus yang mempertahankan dan mengembangkan pola-pola batik lokal. Salah satu motif batik lokal yang tidak ditemui di daerah lain di Indonesia adalah motif kapal kandas, berbentuk kapal terbalik.</p>
<p>Menurut Yuli, orang-orang tua pembatik di Kudus masih sering menggunakan motif ini. Hanya saja, sejarah pasti tentang motif tersebut sulit sekali digali. Bahkan, tak hanya motif kapal kandas, tetapi selama dua tahun terakhir dia mencoba mencari runutan sejarah batik kudus.</p>
<p>Tidak hanya menelusurinya dari para tetua di kawasan Kota Kretek tersebut, Yuli juga meminta pendapat dari pengelola persatuan batik tulis di Semarang dan Yogyakarta, para kolektor batik, hingga para pembatik senior di kawasan pesisir di Tuban sampai Jakarta.</p>
<p>Selama bergerilya ke sana dan kemari mencari asal-usul batik kudus, Yuli harus merogoh saku paling sedikit Rp 60 juta untuk menebus batik tulis kudus kuno dari tangan kolektor.</p>
<p>”Data yang didapat dari berbagai cerita menunjukkan, motif kapal kandas diilhami dari kandasnya kapal China di kawasan ini, mungkin lebih dari 200 tahun lalu. Kapal bangsa China tersebut kandas dan penumpangnya yang selamat kemudian bermukim di lembah Gunung Muria atau Kudus. Batik kudus sama seperti batik di daerah pesisir lainnya, amat dipengaruhi budaya China,” kata Yuli.</p>
<p>Kapal kandas bukan pertanda kemalangan, tetapi justru era baru kehidupan dan kebudayaan di Kudus. Karena itu, motif kapal kandas terus diabadikan dalam lembaran-lembaran batik tulis membaur dengan motif lain yang menggambarkan potensi alam lembah Muria bertahun- tahun silam hingga kini.</p>
<p>Dalam lembaran-lembaran batik hasil karya Yuli, tergambar juga motif buah kopi, jahe-jahean, palijadi, patijotho (sejenis tanaman obat), ikan, dan motif- motif baru hasil kreasinya seperti menara kudus, salah satu ikon Kota Kudus. Motif buah kopi juga menjadi andalan selain kapal kandas karena menggambarkan produk unggulan Kudus yang banyak ditanam di lereng Gunung Muria.</p>
<p>Dari hasil kopi itu pula, tutur Yuli, Kudus menjadi kawasan yang diperhitungkan pada masa penjajahan Belanda. Memperkuat pendapat Yuli, dalam buku- buku sejarah Indonesia disebutkan, awal abad ke-19 saat pemerintahan Gubernur Jenderal Willem Daendels, hasil perkebunan kopi dari kawasan Gunung Muria diangkut melewati Jalan Raya Pos atau jalan lintas di pesisir pantai utara Jawa. Kopi menjadi komoditas yang menjanjikan di dunia perdagangan internasional kala itu.</p>
<p>Sampai era 1970-an, masih banyak perempuan membatik di desa-desa di sekitar Kota Kudus. Batik tulis dengan warna-warna alam dari buah pace, daun mangga muda, atau kunyit. Batik menjadi pakaian sehari-hari dan barang dagangan yang cukup laku di tingkat lokal atau antarkota pesisir di Jawa. Namun, industri lokal ini makin tergerus oleh serbuan batik printing dan batik cap dari Pekalongan. Di sisi lain, warga Kudus lebih tertarik menjadi buruh linting di pabrik rokok.</p>
<p>Sejak 1980-an praktis batik kudus tak lagi berkibar, ditinggalkan oleh masyarakat pembuat dan pemakainya. Kini yang tertinggal hanya pembatik sepuh yang berusia di atas 50 tahun. Itu pun jumlahnya bisa dihitung dengan jari.</p>
<p><strong>Pelatihan membatik</strong></p>
<p>Dua tahun lalu, Yuli yang berasal dari keluarga perajin bordir pakaian ditawari pelatihan membatik oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Rembang. Dari sekitar 10 orang yang dibina, hanya Yuli yang terus melaju. Dia tetap bersemangat membangkitkan kembali kejayaan batik kudus.</p>
<p>Ia mau belajar dari nol, mulai dari memilih kain yang tepat, menggambar motif, memakaikan lapisan malam, hingga pencelupan untuk pewarnaan. Ratusan lembar kain batik gagal masih teronggok di rumahnya sebagai pengingat kerasnya perjuangan. Namun, belakangan ini ratusan lembar batik tulis buatannya sudah diserap pasar. Pada setiap pameran, batik tulisnya seharga Rp 350.000-Rp 2 juta per lembar ludes diborong konsumen.</p>
<p>Bahkan, bersama komunitas batik tulis di Semarang, Yogyakarta, dan Tuban, Yuli sering mengikuti pameran batik tingkat nasional maupun internasional. Kegigihannya mengembangkan batik kudus membuat batik ini dilirik UNESCO dan sedang dalam proses penetapan resmi sebagai salah satu warisan sejarah dunia.</p>
<p>Di samping itu, Yuli juga merintis pelatihan membatik bagi warga desanya meskipun baru tiga dari 10 orang binaannya yang mahir membatik.</p>
<p>Meski untuk semua jerih payah itu tubuhnya menjadi makin kurus, berat badannya turun dari sekitar 60 kilogram menjadi 45 kg, Yuli justru merasa segar. Terlebih jerih payahnya semakin dihargai orang.</p>
<p>Batik tulis karyanya mulai diminati para perancang busana nasional. Batik hasil karya Yuli juga telah terdaftar dengan nama paten Muria Batik Kudus pada Hak atas Kekayaan Intelektual (HKI) dengan nomor registrasi D 002007030389.</p>
<p>Namun, perempuan yang masih melajang ini tetap gundah karena motif-motif asli batik kudus belum semua terungkap. Kekecewaan menerpa Yuli ketika mengetahui ada buku yang memuat motif-motif kuno batik kudus justru tersimpan di Belanda, sementara dia tak punya akses maupun uang untuk mendapatkannya kembali.</p>
<p>”Belakangan ini batik sedang tren sehingga langkah untuk memperkenalkan batik kudus terasa lebih mudah. Namun, suatu saat tren fashion pasti akan berubah. Supaya tidak kandas lagi, saya harus memperkuat batik kudus dengan penggalian sejarah dan pengayaan motif- motifnya. Ini yang selalu menjadi pekerjaan rumah saya,” kata Yuli.</p>
<p><strong><br />
<span style="text-decoration: underline;">BIODATA</span></strong></p>
<p><strong>Nama:</strong> Yuli Astuti</p>
<p><strong>Lahir:</strong> Kudus, 15 Desember 1980</p>
<p><strong>Orangtua:</strong> Sahid (60) dan Istiana (50)</p>
<p><strong>Pendidikan:</strong></p>
<p>- SD 03 Inpres Karang Malang, Kudus</p>
<p>- SMP Tsanawiyah Negeri Kudus</p>
<p>- SMEA Negeri Kudus</p>
<p>- Sekolah Modiste Soen Kudus</p>
<p><strong>Pelatihan:</strong></p>
<p>- 18 Maret-2 April 2007 pelatihan di Jakarta difasilitasi AWCF (Asian Women In Cooperatives Development Forum), The Regional Exchange Programme, Women Entrepreneurs and Exploring Opportunities for Microenterprise Development in Cooperatives in Southeast Asia, diikuti 12 negara.</p>
<p>- 29 Juli-6 Agustus 2007 pelatihan di Bangkok, Thailand, juga difasilitasi AWCF dalam acara The Regional Forum- ICT Aplication in Enterprise Development, Building Networks and Opportunities for Women Entrepreneurs in Cooperatives.<br />
<strong>NEL</strong><br />
<strong style="font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: bold; font-size: 11px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: #999999;">Sumber : Kompas Cetak</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muria.web.id/blog/yuli-astuti-demi-selembar-kapal-kandas.aspx/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wisata kota Kudus</title>
		<link>http://muria.web.id/blog/wisata-kota-kudus.aspx</link>
		<comments>http://muria.web.id/blog/wisata-kota-kudus.aspx#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Feb 2009 05:59:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[wisata]]></category>
		<category><![CDATA[daerah wisata]]></category>
		<category><![CDATA[daerah wisata kota kudus]]></category>
		<category><![CDATA[daerah wisata kudus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muria.web.id/blog/?p=124</guid>
		<description><![CDATA[

Museum           Kretek


  


Bukan hanya untuk para perokok berat. Tapi bisa untuk siapa saja       yang ingin tahu sejarah rokok kretek di Indonesia. Itulah Museum Kretek di       Kudus, Jawa ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<ul>
<li>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;"><span lang="IN"><strong>Museum           Kretek</strong></span></span></p>
</li>
</ul>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;"><span lang="IN"><span> </span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;"><span lang="IN"><span><img src="http://www.geocities.com/kudus_online1/images/Museum_kretek.gif" border="0" alt="Sebuah Miniatur di Museum Kretek" width="219" height="142" align="left" /></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify">
<p class="MsoNormal" align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;"><span lang="IN"><span>Bukan</span> hanya untuk para perokok berat. Tapi bisa untuk siapa saja       yang ingin tahu sejarah rokok kretek di Indonesia. Itulah Museum Kretek di       Kudus, Jawa Tengah, yang merupakan satu-satunya museum rokok di Indonesia.       Di sana Anda bisa menemukan bagaimana proses pembuatan rokok hingga       tokoh-tokoh yang berperan besar dalam memajukan bisnis rokok di Indonesia. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;"><span lang="IN">Bangunan       Museum Kretek yang berdiri di atas areal seluas 2 hektar ini terbilang       sangat indah dan megah. Di depannya ada dua bangunan terpisah berasitektur       rumah adat Kudus dan surau gaya Kudus. Interior Museum dipenuhi dengan       patung-patung dan berbagai macam perlengkapan pembuatan rokok.       Patung-patung yang apik itu adalah hasil karya seniman-seniman Kudus,       khususnya dari kalangan pendidik. </span></span></p>
<p><span id="more-124"></span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;"><span lang="IN">Begitu       memasuki Museum ini, Anda bakal disambut dengan patung perempuan bercaping       yang dikelilingi empat perempuan lainnya. Patung-patung itu memperagakan       proses pembuatan rokok kretek secara manual, mulai dari pelintingan hingga       persortiran. Kemudian, di bagian sayap dalam kanan-kiri, Anda bisa       mempelajari seluk beluk proses kerja pembuatan rokok dari bahan mentah       hingga ke pemasaran. Dengan menggunakan diorama, di situ digambarkan mulai       dari penanaman tembakau, pemetikan, pengolahan di pabrik sampai akhirnya       menjadi rokok dan siap dipasarkan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;"><span lang="IN">Di       Museum Kretek ini juga dipamerkan mesin manual untuk mengolah tembakau dan       rokok dalam filtrin-filtrin tersendiri. Berbagai macam bahan pembungkus       rokok seperti daun jagung atau klobot, yang merupakan cikal bakal       pembungkusan lintingan, turut melengkapi Museum ini. Siapa tokoh di balik       bisnis rokok ini? Anda bisa melihatnya melalui foto-foto yang terpajang di       dinding tengah bagian dalam Museum. Foto-foto saudagar atau industriawan       pabrik rokok di Kudus itu terpampang dalam warna hitam-putih. Tentu saja       tak ketinggalan foto M Nitisemito berukuran besar. Jangan heran bila foto       M Nitisemito berukuran paling besar dibanding yang lainnya. Maklum saja,       Nitisemito merupakan tokoh paling berjasa, dan pionir industri rokok di       Kudus bahkan di Indonesia. Tak berlebihan bila Museum ini seolah tempat       mengenang jasa industriawan Nitisemito. </span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;"><span lang="IN">Tertarik?       Silakan datang. Tempatnya tak terlalu sulit untuk dijangkau, baik dengan       kendaraan pribadi maupun umum. Kota Kudus terletak 50 km timur Semarang,       paling tidak bisa menghabiskan waktu kurang dari satu jam dari Semarang.       Tapi ingat, jangan berasap (merokok) di &#8221;museum asap&#8221; ini.</span></span></p>
<ul>
<li><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;"><span lang="IN"><strong>Gunung           Muria ( Wisata pegunungan Colo )</strong></span></span></li>
</ul>
<p align="justify"><span lang="IN"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;"><span> Gunung Muria adalah gunung yang terletak di sebelah utara kota kudus       kurang lebih 18 Km dari pusat kota. Gunung Muria sudah banyak dikenal       orang terutama para peziarah, karena disana terdapat makam salah satu       tokoh dari 9 wali, yaitu Sunan Muria. Selain Makam Sunan Muria terdapat       juga objek wisata pegunungan yaitu Colo. </span></span></span></p>
<p align="justify"><span lang="IN"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;"><span>Colo       merupakan daerah tujuan wisata yang banyak di kunjungi, umumnya pada hari       Sabtu dan Minggu, Selain  udaranya yang sejuk dan segar anda juga       dapat menemukan wisata Air terjun Monthel, disana anda dapat mandi atau       sekedar bermain air. Bagi anda yang ingin menikmati liburan dan       beristirahat dengan santai sembari menghirup udara segar di sana juga       terdapat banyak vila untuk disewakan. Bagi anda yang Hobby petualangan,       disana anda juga dapat melakukan camping atau mendirikan kemah. </span></span></span></p>
<ul>
<li><span lang="IN"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;"><span><strong>Taman           Krida Wisata Gor Wergu Wetan</strong></span></span></span></li>
</ul>
<p align="justify"><span lang="IN"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;"><span> <img src="http://www.geocities.com/kudus_online1/images/Taman.gif" border="0" alt="Taman Krida Wisata" width="243" height="142" align="left" /></span></span></span></p>
<p align="justify">
<p align="justify"><span lang="IN"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;"><span>Yaitu sebuah taman rekreasi yang teduh dan nyaman lokasi ini terdapat di       depan gedung olah raga ( GOR ) wergu wetan. disana anda dapat menemukan       aneka tempat bermain anak &#8211; anak, selain itu anda juga dapat duduk &#8211; duduk       santai di bawah pohon rindang yang banyak terdapat disana sambil melihat       pemandangan, atau melihat tingkah monyet &#8211; monyet. jika anda lelah dan       capek berjalan &#8211; jalan anda dapat menikmati jagung bakar atau bakwan bakar       sambil minum teh, lokasinya terdapat di belakang komplek taman wisata,       disana terdapat kurang lebih 10 pedagang jagung bakar yang setiap hari       mangkal disana, tempat ini banyak di kunjungi anak &#8211; anak muda di waktu       sore hari.</span></span></span></p>
<ul>
<li><span lang="IN"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;"><span><a name="tuguidentitas"><strong>Tugu           Identitas</strong></a></span></span></span></li>
</ul>
<p align="justify"><span lang="IN"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;"><span> Merupakan tugu identitas kota kudus, bangunan yang mirip menyerupai       bangunan Masjid Menara setinggi  50 m ini banyak dikunjungi oleh       wisatawan umumnya anak &#8211; anak muda. di puncak tugu tersebut terdapat       ruangan, disana anda dapat melihat keindahan pemandangan kota Kudus dari       atas, selain itu terdapat juga sebuah taman disana, jika anda ingin santai       sambil duduk &#8211; duduk disanalah tempat yang cocok. Untuk memasuki kawasan       tugu Identitas tersebut anda hanya di pungut biaya Rp. 500. Lokasi ini       terdapat di depan komplek pertokoan Kudus Plaza.</span></span></span></p>
<p align="justify"><span lang="IN"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;"><span>Source : http://www.geocities.com/kudus_online1<br />
</span></span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muria.web.id/blog/wisata-kota-kudus.aspx/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kebudayaan Kudus</title>
		<link>http://muria.web.id/blog/kebudayaan-kudus.aspx</link>
		<comments>http://muria.web.id/blog/kebudayaan-kudus.aspx#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Feb 2009 12:54:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Kudus]]></category>
		<category><![CDATA[wisata]]></category>
		<category><![CDATA[adat istiadat]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[kebudayaan]]></category>
		<category><![CDATA[kota]]></category>
		<category><![CDATA[kota kretek]]></category>
		<category><![CDATA[kota kudus]]></category>
		<category><![CDATA[kota suci]]></category>
		<category><![CDATA[kudus]]></category>
		<category><![CDATA[Ragam Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muria.web.id/blog/?p=121</guid>
		<description><![CDATA[
Kebudayaan

 Kegiatan &#8211; kegiatan kebudayaan yang ada di kota Kudus lebih di               dasari oleh kehidupan beragama, yaitu Islam. Khususnya kawasan               sekitar Masjid ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<ul>
<li><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;"><strong>Kebudayaan</strong></span></li>
</ul>
<p><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;"><strong> </strong>Kegiatan &#8211; kegiatan kebudayaan yang ada di kota Kudus lebih di               dasari oleh kehidupan beragama, yaitu Islam. Khususnya kawasan               sekitar Masjid Menara Kudus, setidaknya ada 4 tradisi atau adat               yang berjalan rutin setiap tahun, yaitu :</span></p>
<blockquote>
<p style="margin-bottom: -15px;"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">1.                 <strong>Dandangan</strong>.</span></p>
<p style="margin-bottom: -15px;" align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;"> <img src="http://www.geocities.com/kudus_online1/dandangan.jpg" border="0" alt="Tradisi Dandangan" hspace="4" width="254" height="169" align="left" /></span></p>
<p style="margin-bottom: -15px;" align="justify">
<p style="margin-bottom: -15px;" align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">Dilaksanakan                 setiap menjelang bulan                 puasa, berlangsung semacam &#8221;pasar malam&#8221; sekitar dua minggu,                 sambil menunggu kepastian awal Puasa. Hampir semua pedagang kaki                 lima (PKL) dengan segala macam dagangan berkumpul pada momen itu.                 Bahkan lengkap dengan hiburan rakyat yang murah meriah bernuansa                 tradisional. Lokasi Dandangan                 ditetapkan berlangsung di sekitar Masjid Menara hingga pohon                 beringin, Jl. Menara Kudus, dan Jl. Madurekso praktis di tutup                 untuk kegiatan tersebut. Sedangkan Jl. Sunan Kudus sampai Alun &#8211;                 alun biasanya juga menjadi padat sekali, apalagi dengan                 kedatangan wisatawan, maka area parkir bus menggunakan Jl. Kyai                 Telingsing maupun jalan &#8211; jalan disekitarnya.</span></p>
<p style="margin-bottom: -15px;" align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">2.                 <strong>Buka Luwur</strong></span></p>
<p style="margin-bottom: -15px;" align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;"> Diadakan setiap tahun, bertepatan dengan tanggal 10 Muharram (                 Assyura ). Buka Luwur adalah upacara tradisional penggantian                 kain kelambu yang dijadikan penutup makam Sunan Kudus. Upacara                 ini cukup meriah kendati tidak semeriah Dandangan.<span id="more-121"></span> Upacara ini                 ditekankan pada Makam Sunan Kudus dan penggantian kain kelambu                 penutup makam. Biasanya dalam upacara ini dilengkapi dengan                 selamatan dan pembacaan tahlil serta do&#8217;a. Upacara ini biasanya                 melibatkan para tokoh &#8211; tokoh agama, para sesepuh dan masyarakat                 sekitar Masjid Menara ini.</span></p>
<p style="margin-bottom: -15px;" align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">3.                 <strong>Tradisi Muludan</strong>.</span></p>
<p style="margin-bottom: -15px;" align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;"> Diadakan tiap &#8211; tiap bulan Maulud yang intinya memperingati hari                 kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW, peringatan ini memang menjadi                 salah satu kegiatan Islam yang sifatnya Internasional, tetapi                 untuk masyarakat Kudus juga menjadi tradisi.</span></p>
<p style="margin-bottom: -15px;" align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">4.                 <strong>Bulusan</strong></span></p>
<p style="margin-bottom: -15px;" align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;"><strong> </strong>Yaitu tradisi yang diadakan tiap tahun, tepatnya tujuh hari                 setelah hari raya Idul Fitri. Tradisi ini hampir sama dengan                 budaya jawa tengah yaitu Kupatan, tempat diadakanya tradisi                 bulusan adalah desa bulusan yang konon menurut cerita dahulu ada                 seorang yang dikutuk menjadi seekor bulus ( Kura &#8211; kura ), aneh                 nya tempat itu sekarang masih banyak Kura &#8211; kura yang                 berkeliaran. Untuk meramaikan tradisi ini biasanya diadakan                 pasar malam atau bazar.</span></p>
<p style="margin-bottom: -15px;" align="justify">
</blockquote>
<ul>
<li><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;"><strong>Kudus Bagian dari         Regionalisme Kebudayaan Jawa</strong></span></li>
</ul>
<p align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;"> Paling tidak menurut pandangan jawa sendiri, kebudayaan di jawa tidak         merupakan satu kesatuan yang homogen. mereka sadar akan adanya suatu         keaneka ragaman yang sifatnya regional ( Periksa Peta : Variasi regional         kehidupan jawa )</span></p>
<div>
<table border="0">
<tbody>
<tr>
<td><img src="http://www.geocities.com/kudus_online1/peta2.gif" border="2" alt="Peta Kebudayaan Jawa" width="505" height="150" /></p>
<div>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" align="right">
<tbody>
<tr>
<td width="100%"><em><span style="font-size: x-small;">Peta Kebudayaan Jawa</span></em></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p align="justify"><span style="font-family: Arial; font-size: x-small;"> </span><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">Orang Jawa menganggap, kebudayaan yang berada pada kota &#8211; kota pantai         utara pulau jawa mereka sebut sebagai kebudayaan pesisir. Kebudayaan ini         meliputi daerah Indramayu &#8211; Cirebon sebelah barat, sampai kota Gresik         disebelah timur, dan Kudus adalah terletak di pesisir kilen. Penduduk         daerah pesisir umumnya adalah pemeluk agama Islam Puritan ( berbeda         dengan kebudayaan negarigung, yang agamanya sangat sinkretis &#8211; campuran         antara Hindu, Budha dan Islam termasuk gerakan &#8211; gerakan kebathinan ).         Sosial budaya mereka sangat dipengaruhi oleh agama Islam. Kesusastraan         mereka yang berumur 4 abad dipengaruhi sangat kuat oleh agama Islam. <em><strong> Th         Pigeaud</strong></em> dalam <em> interature of java</em> secara tegas memecah kebudayaan pesisir         utara menjadi 3 sub bagian  : </span></p>
<ol>
<li><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">Bagian Barat disebut Pesisir             Kilen,             dengan pusat cirebon &#8211; Pekalongan, Tegal.</span></li>
<li><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">Bagian Timur disebut Pesisir             Wetan,             berpusat di Gresik.</span></li>
<li><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">Bagian Tengah meliputi Kudus, Demak             dan Sekitarnya.</span></li>
</ol>
<p>Source : http://www.geocities.com/kudus_online1</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muria.web.id/blog/kebudayaan-kudus.aspx/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kota Kudus</title>
		<link>http://muria.web.id/blog/kota-kudus.aspx</link>
		<comments>http://muria.web.id/blog/kota-kudus.aspx#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Feb 2009 12:15:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Kudus]]></category>
		<category><![CDATA[wisata]]></category>
		<category><![CDATA[informasi]]></category>
		<category><![CDATA[kota kretek]]></category>
		<category><![CDATA[kota kudus]]></category>
		<category><![CDATA[kota suci]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muria.web.id/blog/?p=115</guid>
		<description><![CDATA[1. Sejarah Berdirinya Kota Kudus

 Kudus berasal dari kata Al-Quds, yaitu Baitul Mukadis, sebuah                   nama saat tempat itu dinyatakan sebagai tempat suci oleh   Sunan       ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">1. </span><span style="font-family: Arial; font-size: x-small;"><strong>Sejarah Berdirinya Kota Kudus</strong></span></p>
<blockquote>
<p align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;"> Kudus berasal dari kata Al-Quds, yaitu Baitul Mukadis, sebuah                   nama saat tempat itu dinyatakan sebagai tempat suci oleh  <span style="color: #ff0000;"> Sunan                   Kudus</span>. Nama sebelumnya adalah Tajug ( Tajug adalah bentuk atap                   arsitektur tradisional yang sangat kuno dipakai untuk tujuan                   keramat  ), atau dapat disebut juga bangunan makam.                   Dengan demikan kota Tajug dulunya sudah memilki sifat                   kekeramatan tertentu.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;"> Lahirnya kota kudus tidak dapat dipisahkan dari nama sesepuh                   tertua yang pertama-tama menggarap tempat tersebut, yaitu <em><strong>Kyai                   Tee Ling Sing. </strong></em>Beliau adalah mubaligh Islam dari Yunan,                   yang datang bersama &#8211; sama dengan seorang pemahat<em><strong> / </strong></em>pengukir                   ulung bernama <strong><em>Sun Ging An</em></strong> ( Kemudian menjadi                   kata kerja nyungging yang berarti mengukir, daerah ukir                   mengukir dijaman purbakala ini kemudian menjadi desa                   Sunggingan ). Kyai Tee Ling Sing kemudian bersama &#8211; sama                   dengan pendatang <em><strong>Ja &#8216; far Shodiq</strong></em> ( sunan Kudus                   ) secara bertahap berhasil menguasai daerah kudus dan                   mengembangkanya.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;"> Kota suci Kudus / Baitul Mukadis sudah sangat terkenal di                   pulau Jawa, dan bahkan Nusantara sebagai pusat penyebaran                   agama Islam, Masjid besarnya bernama Al &#8211; Manar atau Al &#8211; Aqsa,                   seperti masjid suci di Baitul Mukadis bagian Islam. Sejak abad                   17 pengunjung &#8211; pengunjung barat sudah mengagumi Menara                   raksasanya &#8211; sebuah bangunan kukuh, berarsitektur candi &#8211;                   candi pra &#8211; Islam. </span></p>
</blockquote>
<p align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">2.                  <strong>Kerajaan kecil Kudus</strong></span></p>
<blockquote>
<p align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;"> Sejarah kota Kudus tidak lepas dari nama seorang tokoh                   penyebar agama Islam di tanah Jawa yaitu Ja &#8216; far Shodiq, atau                   lebih di kenal sebagai Sunan Kudus, bersama tokoh &#8211; tokoh                   agama Islam, mereka membangun kekuasaan berdasarkan wibawa                   rohani terhadap para jemaah dan orang alim. pada segi tertentu,                   mereka dapat di bandingkan dengan raja &#8211; raja Cirebon dan Giri                   Gresik, yang memulai kegiatan mereka sebagai pemimpin agama,                   membentuk dinasti dan berhasil meraih kekuasaan politik cukup                   besar.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;"> Pemimpin rohani ini berderajat tinggi, penuh semangat tempur                   bernama sunan Kudus. Ikut bertugas dalam militer melawan                   Mojopahit pada tahun 1527, bertahun &#8211; tahun hidup di Demak                   sebagai penghulu mesjid suci Demak &#8211; karena berselisih denga                   raja Demak perkara permulaan bulan Puasa beliau pindah ke                   Kudus dan selanjutnya mendirikan kerajaan kecil disana.</span></p>
</blockquote>
<p align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">3. <strong>Perkembangan                 kota Kudus</strong></span></p>
<div>
<table border="0">
<tbody>
<tr>
<td><img src="http://www.geocities.com/kudus_online1/images/foto_lama.gif" border="1" alt="" /></p>
<div>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top">
<p align="right"><em><span style="font-family: Arial; font-size: xx-small;">Koedoes                               Tempo Doeloe</span></em></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<blockquote>
<p align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;"> Kota Kudus berkembang bersama dengan daerah lain, dan embrio                   ini sekarang dikenal sebagai kota Kuno atau pusat kota lama,                   di sebut Kudus kulon dan terdiri dari 7 desa :</span></p>
<blockquote>
<ul>
<li>
<p align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">Pemukiman                         : berdasarkan etnis sosiologis, perkembangan pemukiman                         di Kudus bisa di kelompokan sebagai berikut :</span></p>
</li>
</ul>
<blockquote>
<p align="justify"><strong><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">Kudus                       Kulon :</span></strong></p>
<p style="margin-bottom: -15px;" align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">1.                       Pusat Kota Lama :</span></p>
<blockquote>
<ul>
<li>
<p align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">Kauman</span></p>
</li>
<li>
<p align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">Kerjasan</span></p>
</li>
<li>
<p align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">Langgar                             Dalem</span></p>
</li>
<li>
<p align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">Demangan</span></p>
</li>
<li>
<p align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">Janggalan</span></p>
</li>
<li>
<p align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">Damaran</span></p>
</li>
<li>
<p align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">Kajeksan</span></p>
</li>
</ul>
</blockquote>
<p style="margin-bottom: -15px;" align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">2.                       Daerah Pinggiran Kota :</span></p>
<blockquote>
<ul>
<li>
<p align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">Krandon</span></p>
</li>
<li>
<p align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">Singocandi</span></p>
</li>
<li>
<p align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">Purwosari</span></p>
</li>
<li>
<p align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">Sunggingan</span></p>
</li>
</ul>
</blockquote>
<p align="justify"><strong><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">Kudus                       Wetan :</span></strong></p>
<p style="margin-bottom: -15px;" align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">1.                       Daerah Cina :</span></p>
<blockquote>
<ul>
<li>
<p align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">Panjunan</span></p>
</li>
<li>
<p align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">Kramat</span></p>
</li>
<li>
<p align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">Wergu                             Kulon</span></p>
</li>
</ul>
</blockquote>
<p style="margin-bottom: -15px;" align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">2.                       Daerah Priyayi :</span></p>
<blockquote>
<ul>
<li>
<p align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">Nganguk</span></p>
</li>
<li>
<p align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">Glantengan</span></p>
</li>
<li>
<p align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">Barongan</span></p>
</li>
</ul>
</blockquote>
<p style="margin-bottom: -15px;" align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">3.                       Daerah Abangan :</span></p>
<blockquote>
<ul>
<li>
<p align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">Mlati                             Kidul </span></p>
</li>
<li>
<p align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">Mlati                             Lor</span></p>
</li>
<li>
<p align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">Mlati                             Norowito</span></p>
</li>
<li>
<p align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">Rendeng</span></p>
</li>
<li>
<p align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">Wergu                             Wetan</span></p>
</li>
</ul>
</blockquote>
<p style="margin-bottom: -15px;" align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">4.                       Desa &#8211; Desa Lainya :</span></p>
<blockquote>
<ul>
<li>
<p align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">Demaan</span></p>
</li>
<li>
<p align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">Burikan</span></p>
</li>
<li>
<p align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">Kaliputu</span></p>
</li>
</ul>
</blockquote>
</blockquote>
<ul>
<li>
<p align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">Penduduk                         : Disini kita melihat adanya pengelompokan sistem sosial                         &#8211; meminjam Tipologi Jawa dari <em><strong>Geertz</strong></em> yaitu                         santri, Priyayi dan Abangan, walaupun tidak tepat benar.                         Penduduk Arab dan Cina juga bermukim disana, termasuk                         Eropa berdasar sensus tahun 1930 berjumlah 417 penduduk</span></p>
</li>
</ul>
</blockquote>
</blockquote>
<p style="margin-bottom: -15px;" align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">4.   <strong> Potret Kota Kudus dalam Sejarah Nasional</strong></span></p>
<div>
<table border="0">
<tbody>
<tr>
<td><img src="http://www.geocities.com/kudus_online1/images/foto_lama2.gif" border="1" alt="" width="245" height="161" /></p>
<div>
<table border="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td width="100%">
<p align="right"><em><span style="font-family: Arial; font-size: xx-small;">Kudus dalam                 sejarah</span></em></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<blockquote>
<p align="justify"><span style="font-family: Arial; font-size: x-small;"> </span> <span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">Suatu Potret yang diambil di rumah H. Mc.     Noerchamid, Kunjungan tokoh     pejuang nasional Dr. Gatot Subroto dan tokoh &#8211; tokoh pejuang Nasional lainya     di kota Kudus</span></p>
</blockquote>
<p align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">5. <strong> Sosial Budaya</strong></span></p>
<blockquote>
<p align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;"> Melacak Tradisionalisme di Kudus berarti melacak sosial budaya saat ini dan     yang lalu untuk mendapatkan gambaran yang tidak terputus. Dan     tradisionalisme ini jelas adalah kontinuitas pada lingkungan kota lama,     yaitu Kudus Kulon.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;"> Priyayi Kudus adalah Aristokrat keturunan Sunan Kudus, yang diberi gelar     oleh pemerintah kolonial dan sebenarnya tidak disenangi oleh mereka, Umumnya     mereka tidak kaya, memilih bekerja sebagai pedagang, pengrajin, mubaligh     dari pada sebagai pegawai negeri. Orientasi budaya adalah santri. Bahkan     salah satu Raden yakni KHR. Asnawi menjadi pendiri NU. Sebagian besar orang     &#8211; orang Kudus Kulon tinggal di rumah &#8211; rumah besar, para generasi lama     membangun kekayaan mereka dengan cara hidup sederhana, bekerja keras,     menjadi usahawan yang ulung dan santri yang saleh, agak kurang percaya     dengan pendidikan ala barat kecuali pendidikan Islam tradisional. Pada     periode puncak kemakmuran mereka, mereka cenderung menjadi bangsawan borjuis     yang sadar bahwa dengan mereka bertentangan dengan pegawai priyayi dan elite     priyayi.</span></p>
</blockquote>
<blockquote><p>Source :  http://www.geocities.com/kudus_online1</p></blockquote>
<p align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;"><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muria.web.id/blog/kota-kudus.aspx/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kudus Kota Suci</title>
		<link>http://muria.web.id/blog/kudus-kota-suci.aspx</link>
		<comments>http://muria.web.id/blog/kudus-kota-suci.aspx#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Feb 2009 12:12:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Kudus]]></category>
		<category><![CDATA[wisata]]></category>
		<category><![CDATA[asal muasal]]></category>
		<category><![CDATA[kabupaten kudus]]></category>
		<category><![CDATA[kota kretek]]></category>
		<category><![CDATA[kota kudus]]></category>
		<category><![CDATA[kota suci]]></category>
		<category><![CDATA[kudus]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muria.web.id/blog/?p=113</guid>
		<description><![CDATA[ Kudus adalah sebuah       kota yang secara geologis terletak di Jawa Tengah tepatnya disebelah utara pulau Jawa       sekitar kurang lebih 51 km ke arah timur ibu kota Jawa Tengah Semarang,       Menurut pendapat ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-top: -10px;" align="justify"><strong><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: medium;"> K</span></strong><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">udus adalah sebuah       kota yang secara geologis terletak di Jawa Tengah tepatnya disebelah utara pulau Jawa       sekitar kurang lebih 51 km ke arah timur ibu kota Jawa Tengah Semarang,       Menurut pendapat Prof. Dr. R. Ng. Poerbatjaraka, diseluruh tanah Jawa       hanya ada satu tempat yang namanya di ambil dari bahasa Arab yaitu </span><span style="font-size: x-small;"><em><strong>Kudus</strong></em></span><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">.       Sebuah kabupaten yang mempunyai penduduk kurang lebih 704.137       jiwa (</span><span style="font-size: x-small;"><span style="font-family: Helvetica,Arial;"> </span><em>Menurut</em><span style="font-family: Helvetica,Arial;"> </span><em>Sensusnas 2000 </em></span><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;">)       ini mempunyai status kabupaten, atau disebut dengan istilah sekarang       daerah Swantara tingkat II, termasuk karesidenan Pati.</span></p>
<p><span id="more-113"></span></p>
<p style="margin-top: -10px;" align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;"> Kota Kudus sangat strategis letaknya, karena merupakan daerah       perlalu-lintasan yang menghubungkan daerah-daerah sekitarnya. baik daerah       di sebelah timur, seperti misalnya daerah Pati, Tayu, Juwana, Rembang,       Lasem, dan Blora, maupun daerah-daerah sebelah barat seperti Mayong,       Jepara dan Bangsri mempergunakan kota Kudus sebagai daerah penghubung yang       menghubungkan daerah-daerah tersebut dengan kota Semarang, sebagai pusat       pemerintahan tingkat propinsi. </span></p>
<p style="margin-top: -10px;" align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;"> Kudus       kota kretek, Kudus kota jenang, dan Kudus kota santri menunjukkan betapa       penting kota kecil . Kota Kudus yang terletak di jantung kabupaten       terkecil di Jateng ini memang cukup dinamis dalam beberapa hal. Sebagai       kota kretek, jenang, dan santri, Kudus tak diragukan lagi.Yang terakhir,       kalau orang menyebutnya sebagai kota santri, pikiran kita lalu menunjuk       Menara Kudus dengan Sunan Kudus dan Sunan Muria yang bermukim di atas       Gunung Muria.</span></p>
<p style="margin-top: -10px;" align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;"> Kota Kudus disebut juga kota suci dari makna kata Kudus       yang berarti &#8221; Suci &#8221; , Konon nama ini diberikan oleh seorang       tokoh bernama Ja &#8216; far Shodiq atau lebih di kenal dengan sebutan sunan       Kudus, nama &#8221; Kudus &#8221; sendiri berasal dari  bahasa Arab       yaitu <span style="color: #ff0000;">Al &#8211; Quds</span>, yaitu Baitul Mukadis berarti       tempat suci. di       Kudus sendiri terdapat 2 makam sunan penyebar agama islam di tanah Jawa       yaitu Makam Sunan Kudus yang bertempat di masjid Menara dan Makam Sunan       Muria yang bertempat di lereng Gunung Muria, yang selain sebagai tempat       ibadah makam sunan juga banyak di kunjungi sebagai tujuan wisata agama       yaitu ziarah Wali Songo. Sebagai daerah tujuan wisata Masjid Menara Kudus       adalah salah satu obyek wisata yang selalu ramai dikunjungi masyarakat       baik domestik maupun lokal, dimana Masjid Menara merupakan salah satu       peninggalan bersejarah dari para wali songo yang dibangun pada tahun 956 H       atau 1544 M merupakan hasil asimilasi dari 2 kebudayaan yaitu Hindu dan       Islam.</span></p>
<p style="margin-top: -10px;" align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;"> Disamping fungsinya sebagai kota penghubung, kota Kudus termasuk kota yang       ramai, karena sebagaimana di ketahui, Kudus adalah terhitung kota Industri.       Disana kita dapati banyak industri rokok kretek, gula, pertenunan,       percetakan dan lain sebagainya.Kota Kudus lebih di kenal sebagai       kota Kretek dimana terdapat lebih dari 50 pabrik Rokok dari home industri       sampai industri berskala besar diantaranya adalah <a href="http://www.djarum.com/" target="_blank"><span style="color: #ff0000;">PT.       Djarum,</span></a> PT. Nojorono, PR.Sukun, PR. Jambu Bol, selain itu juga       terdapat beberapa pabrik bersekala nasional maupun international besar       bahkan menggunakan tekhnologi tinggi seperti <a href="http://202.152.36.117:8080/" class="broken_link"  target="_blank"><span style="color: #ff0000;">PT.       Pura Barutama</span></a>,  PT. Polytron, </span></p>
<p style="margin-top: -10px;" align="justify"><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: x-small;"><br />
</span></p>
<table border="0" width="248">
<tbody>
<tr>
<td width="252">
<p align="center"><strong><span style="font-family: Helvetica,Arial; font-size: medium;"><img src="http://www.geocities.com/kudus_online1/images/Alun_alun_kota.gif" border="0" alt="Alun-Alun kota Kudus" width="247" height="150" align="left" /></span></strong></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Source : http://www.geocities.com/kudus_online1/</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muria.web.id/blog/kudus-kota-suci.aspx/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
