kudus, kabupaten kudus, kota kudus Jejak wali Kota Kretek | muria.web.id

Jejak wali Kota Kretek

Filed in Berita Kudus 0 comments

Menara Kudus

KALAU Anda memasuki Kabupaten Kudus untuk kali pertama, yakinlah
pasti banyak yang bisa Anda rekam dalam ingatan. Kalau Anda dari arah barat
(Semarang), Anda segera akan berhadapan dengan wilayah berkarakter

perkotaan kental.

Ada banyak industri
yang pesat berkembang di sana. Ada pabrik kertas dengan bangunan mewah,
juga banyak dijumpai unit-unit (brak) pembuatan rokok yang menebarkan aroma
saus tembakau. Wajar saja, Kudus memang kota penghasil rokok. Atribut Kota
Kretek juga sudah sangat populer di telinga.

Bukan cuma itu. Di pusat kota, papan-papan promosi makanan banyak terpancang,
khususnya tentang jenang. Dan sebutan Kota Jenang juga menjadi atribut
Kudus yang lain.

Ya, boleh saja Kudus itu sebuah kota industri yang cenderung materialistis.
Tapi jangan lupakan posisi penting wilayah tersebut dalam sejarah perkembangan
Islam di Jawa. Sudah kesohor jika Kudus menjadi salah satu penyebaran Islam
pada masa Wali Songo dengan dua tokohnya Sunan Kudus dan Sunan Muria.

Dengan dua tokoh penyebar Islam itu, wajar saja kisah dan artefak kebudayaan
Islam bisa dijumpai di banyak tempat di Kudus. Wilayah itu pun akhirnya
mendapat sebutan yang paling kuat di antara citra lain yang melekat yaitu
Kota Santri. Lengkaplah pula sebutan itu ketika Purbatjaraka, ahli antropologi
nusantara mengatakan, di seluruh Jawa hanya ada satu nama kota yang diambil
dari bahasa Arab, yaitu Kudus (dari kata Al Quds yang berarti “tempat
suci”;). Walhasil pula, jejak-jejak sejarah dakwah para wali beserta
peninggalannya itu sampai sekarang dapat kita telusuri baik untuk kepentingan
ibadah maupun kelimuan (sejarah).

Kompleks Masjid Menara Kudus

Tujuan wisata ziarah pertama adalah Kompleks Masjid Menara Kudus (KMMK).
Jika pergi ke komplek itu dengan kendaraan pribadi maksimal sekelas minibus,
Anda bisa memarkir kendaraan di sekitar lokawisata. Tapi kalau dengan bis
wisata yang besar, Anda harus memarkir di terminal wisata baru di Desa
Bakalan Krapyak yang letaknya lumayan jauh, sekitar 1,5 km dari KMMK. Jangan
khawatir, banyak becak wisata atau angkudes siap mengantar Anda. Rp 2000
per orang untuk becak dan Rp 1.500 per orang untuk angkudes tentu bukan
jumlah yang besar.

Lalu kalau sudah di atas sarana transportasi itu, suasana perjalanan
seperti apa yang Anda inginkan?

Kalau lewat Kauman di Kecamatan Kota, Anda akan mulai melihat pemandangan
klasik. Di sisi-sisi jalanan berpaving terlihat deretan rumah dengan sentuhan
arsitektur akulturatif Belanda, Islam dan Hindu. Di sela-selanya, ada banyak
pedagang pernak-pernik seperti peci, tasbih, rebana, dan sajadah. Puncaknya
kita akan melihat perpaduan arsitektur Hindhu-Islam Masjid Menara yang
sudah kesohor itu.

Seperti umumnya masjid di Indonesia, masjid tersebut juga menonjolkan
bentuk kubah. Namun yang pasti berbeda adalah menara masjid yang mengingatkan
bentuk candi-candi Hindu. Kalau mau lebih spesifik bentuk Menara Kudus
mirip dengan Candi Jago atau Candi Singosari di Jawa Timur.

Menara setinggi 15 meter itu berbahan dasar batu bata, sirap dan semen.
Melalui inskripsi pada salah satu bagian rangka atap menara pendirian Menara
Kudus menunjukkan angka tahun 1609 Jawa atau 1687 Masehi.

Menara terdiri atas tiga bagian yaitu kaki, tubuh, dan puncak. Kaki
menara berbentuk bujur sangkar yang masing-masing sisinya berukuran 9,5
meter. Badan menara berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 6,30 meter.

Badan menara dihiasi dengan panel-panel segiempat polos, lingkaran dan
palang Yunani yang diisi piring-piring porselin. Puncak menara berupa ruangan
mirip pendapa yang beralaskan kayu dan beratap dua tingkat berbahan sirap.

Pintu masuk halaman depan Masjid Menara berbentuk candi bentar. Di dalam
masjid, ada dua gapura berbentuk paduraksa atau biasa disebut Kori
Agung atau umum disebut Gapura Lawang Kembar.

Puas mengagumi hasil karya arsitektural tersebut, selanjutnya kita akan
mengunjungi kompleks pemakaman. Kompleks tersebut sebenarnya terletak persis
di belakang masjid. Namun untuk sampai ke sana kita harus melalui pintu
Gerbang Padureksan Kidul Menara, di sebelah selatan menara.

Di situlah Jafar Shodiq atau Sunan Kudus dimakamkan. Di samping puluhan
makam di kawasan itu terdapat pula makam putra Sunan Kudus yaitu Pangeran
Palembang. Makam Sunan Kudus sendiri terdapat di tengah-tengah bangunan
induk berbentuk joglo. Makam Sunan Kudus dalam kesehariannya selalu tertutup
kain kelambu. Peziarah hanya berdoa di sisi luar makam itu.

Jika ingin melihat lebih jelas bangunan makam, Anda bisa datang pada
tanggal 10 Sura. Saat itu akan diadakan pergantian kelambu yang terkenal
dengan istilah buka luwur. Namun Anda harus bersiap-siap untuk berdesak-desakan
dengan pengunjung lain. Karena saat itu, pengunjungnya begitu banyak.

Selain pada ritus tersebut, kedatangan peziarah meningkat pada bulan
Sura, Rajab, Maulud, dan masa liburan sekolah.

Makam Sunan Muria

Setelah berkunjung ke KMMK, tujuan selanjutnya adalah Makam Sunan Muria
di Desa Colo, Kecamatan Dawe. Ziarah ke makam Sunan Muria yang berjarak
sekitar 30 kilometer arah utara dari KMMK sudah menjadi satu paket perjalanan
bagi para peziarah.

Selain menggunakan kendaran pribadi atau rombongan, Anda juga bisa menggunakan
jasa angkutan umum. Rute yang ditempuh cukup berkelok dan menanjak. Maklum,
Makam Sunan Muria memang berada di Gunung Muria.

Kendaraan roda empat biasanya akan berhenti di subterminal Colo sekitar
2 km dari lokasi makam. Bukan karena apa-apa, tapi jalan menuju makam memang
sangat menanjak dan sempit. Sebagai gantinya Anda bisa memakai jasa ojek
untuk meneruskan perjalanan.

Memasuki kompleks pemakaman, peziarah diwajibkan membuka alas kaki.
Untuk menyimpannya Anda harus mempersiapkan tas plastik. Perjalanan diteruskan
dengan menyusuri lorong-lorong dengan bentuk bangunan yang relatif baru.
Lalu kita akan bertemu lagi dengan satu pos. Di sini pengunjung wajib mendaftarkan
diri pada petugas sebelum menuju makam Sunan Muria.

Kompleks makam Sunan Muria berbentuk cungkup batu dengan ornamen
yang mirip dengan makam Sunan Kudus. Di atasnya terdapat hiasan berbentuk
troloyo dikelilingi kelambu putih. Sama seperti Makam Sunan Kudus,
makam Sunan Muria pun dilingkupi kelambu. Prosesi penggantian kelambu buka
luwur
dilaksanakan setiap tanggal 15 Sura.

Usai dari makam Sunan Muria, beberapa langkah menjelang pintu keluar
Anda yang berziarah bisa mengambil air dari gentong keramat peninggalan
Sunan Muria. Dibantu petugas penakar air di situ, Anda bisa membawa pulang
air dengan botol atau jeriken. Jika tidak membawa wadah, Anda bisa membelinya
di sekitar lokasi makam.

Penginapan

Untuk mengunjungi dua lokasi sekaligus memang perlu waktu yang relatif
lama. Apalagi jarak keduanya cukup berjauhan. Selain itu paket wisata ziarah
ini selalu terkait dengan paket lain seperti makam Sunan Kalijaga.

Umumnya bagi peziarah yang sudah kemalaman di makam Sunan Kudus akan
mencari penginapan sebelum meneruskan perjalanan ke Sunan Muria keesokan
harinya.

Karena paket wisata ziarah umumnya dilaksanakan golongan ekonomi menengah
ke bawah, di sekitar kawasan KMMK pun terdapat penginapan murah meriah.

Tarifnya dihitung per rombongan bis. Satu bis yang terdiri atas 50 sampai
60 orang misalnya ditarik biaya Rp 120 ribu sampai Rp 150 ribu. Kalau dihitung,
rata-rata per orang hanya membayar Rp 2.000 sampai Rp 3.000 per malamnya.
Karena murah jangan berharap fasilitas yang muluk-muluk. Mereka hanya menyediakan
tikar atau karpet serta bantal.

Penginapan rombongan ziarah semacam ini umumnya berada di bangunan-bangunan
tua yang banyak bertebaran di sekitar kawasan Menara Kudus. Namun ada juga
rumah-rumah baru, yang tentunya sederhana, untuk usaha sejenis.

Tempat bermalam murah itu memang tidak memasang papan nama resmi layaknya
hotel. Namun Anda tidak perlu khawatir karena para tukang becak biasanya
sudah mengetahui penginapan-penginapan tersebut. Bahkan mereka mau mengantar
sampai tujuan. Tentunya para tukang becak pun akan mendapat komisi dari
pengelola penginapan jika membawa rombongan ziarah. Selain itu, bagi yang
berkantung tebal, beberapa hotel ada di pusat kota yang jaraknya tak terlalu
jauh dari KMMK.

(Sony Wibisono/73)

Sumber : suaramerdeka.com

Tentang Penulis

Share This Post

RSS Digg Twitter StumbleUpon Delicious Technorati

0 Comments

No comments yet. Be the first to leave a comment !
Leave a Comment

Anti-Spam Protection by WP-SpamFree

Previous Post
«
Next Post
»
Zionn designed by ZENVERSE  |  In conjunction with Reseller Hosting from the #1 Web Hosting Provider - HostNexus.