kudus, kabupaten kudus, kota kudus
* Ajukan 2.000 Karung Plastik
KALIWUNGU – Banjir yang kembali melanda Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, sampai kemarin belum menunjukkan tanda-tanda surut. Sama seperti tahun sebelumnya, kawasan Dukuh Karangturi yang landai menjadi daerah yang genangannya paling tinggi.
Di jalur utama perdukuhan tersebut, tepatnya di sekitar jembatan saluran SWD 1, ketinggian air mencapai 1,5 meter. Hal itu menyebabkan warga yang beraktivitas tidak berani melewati jalan di sebelah barat jembatan itu dengan berjalan kaki.
Warga yang umumnya mencari pakan ternak itu terpaksa harus menggunakan rakit dari polyback untuk mengangkut sepeda dan jerami atau rumput mereka. Sementara itu di permukiman penduduk, ketinggian air berkisar antara 50-60 sentimeter.
Genangan air yang terjadi tahun ini, menurut Kepala Desa Setrokalangan, Mursidi, disebabkan jebolnya tanggul pelindung SWD 1 yang terletak di timur Dukuh Karangturi. Tanggul tersebut jebol sepanjang 40 meter.
“Tahun 2008 sebenarnya sudah diperbaiki, tapi awal tahun ini jebol lagi. Kemarin kami juga sudah berencana memperbaiki secara swadaya, tapi keduluan banjir datang,” ujarnya.
Untuk mengantisipasinya saat ini diusulkan 2.000 karung plastik pada Kesbanglinmas untuk menambal tanggul yang bocor. Meski sekitar 117 rumah terendam selama 2 hari ini, warga belum mau mengungsi.
“Kisaran air memang sudah cukup tinggi. Tapi warga masih menganggap ini biasa, mereka masih berharap genangan segera turun dan bisa beraktivitas secara normal. Tapi kalau genangan air tidak kunjung turun, kita sudah mengimbau pada warga untuk mengungsi,” katanya.
Warga memang cukup terbiasa dengan keadaan itu. Mereka baru akan mengungsi jika genangan lebih dari empat hari. Seperti yang terjadi pada tahun 2008 dan pertengahan Januari lalu. “Tahun 2008 genangan sampai 20 hari, terpaksa mereka mengungsi,” jelas Mursidi. Para pegungsi ini pun biasanya didominasi anak-anak dan perempuan.
Berdasarkan pantauan Suara Merdeka kemarin, sebagian kecil ibu-ibu yang mempunyai anak balita saja yang mengungsi. Sementara itu, menurut warga setempat, anak-anak yang masih berusia sekolah dasar, tidak masuk sekolah. “Anak-anak Karangturi sudah dua hari libur sendiri.
Cucu saya yang sekolah di Garung Lor dua hari ini tidak masuk juga,” kata Muslich yang mengantar cucunya menyeberang dengan rakit polyback menuju Karangturi.
sumber: www.suaramerdeka.com